Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Socrates merupakan salah satu tokoh filsafat yunani yang pemikirannya sangat dikenal. Sokrates hidup pada periode kedua yaitu masa Yunani...


Socrates merupakan salah satu tokoh filsafat yunani yang pemikirannya sangat dikenal. Sokrates hidup pada periode kedua yaitu masa Yunani Klasik. Dimana periode pertama disebut dengan masa Yunani Kuno dengan tokoh-tokoh seperti Thales, Democritos, Anaximendes, Phytagoras dan lain sebagainya.

Salah satu pemikiran Socrates yang terkenal adalah tentang pengetahuan semu. Pengetahuan semu merupakan pengetahuan yang bukan sebenarnya. Misalnya seperti taraf kebahagiaan, kebahagiaan seseorang berbeda-beda dan tolak ukur bahagia juga tidak pasti. Jika seseorang mendapat makanan enak dari temannya dia akan merasa behagia, namun setelah makanan itu habis dia tidak akan bahagia lagi, itulah salah satu contoh pengetahuan semu. Banyak yang merasa tahu padahal dia tidak tahu-menahu karena yang ia tahu hanyalah pengetahuan semu.

Setelah adanya pengetahuan semu untuk membantu masyarakat melahirkan kebenaran Socrates berdialektika. Dialektika Socrates dengan mencari universal yang merupakan benang merah dari segala hal yang besifat kebenaran partial. Universal tersebut ada pada arete (kebaikan). Socrates mempertimbangkan antara etika dan estetika, karena perbandingan yang tepat adalah yang baik dan sesuai. Seperti piring, mangkok, nampan, loyang dsb mempunyai penyebutan yang berbeda-beda meskipun sama-sama sebagai wadah makanan, kita tidak mungkin makan bakso dalam loyang. Kemudian bersikap kritis, karena apa yang dianggap umum dan sebagai common sense masih patutu diragukan dan belum tentu sesuatu yang dianggap common sense dalah sebuah common sience.

Jalan dialektika yang pertama adalah dialog, karena pengetahuan diperoleh melalui indra salah satu yang penting adalah dialog dengan mengetahui pendapat orang lain. Selanjutnya rumusan masalah sebagai titik tolak dari suatu kebenaran yang dicari. Lalu pembantahan (elenkhos) dan induksi (epagoge). Sampai mendapatkan suatu definisi yang merupakan sebuah kenyataan hakiki.

#Gnotie se Auton: Merubah dunia bukan lebih baik dari merubah diri sendiri.

*Tim Kajian

 Peran mahasiswa sebagai agent of change merupakan wacana belaka, dikarenakan  pemahaman yang sekilas mata.  Hingga tak ada yang mengkaj...

 Peran mahasiswa sebagai agent of change merupakan wacana belaka, dikarenakan  pemahaman yang sekilas mata.  Hingga tak ada yang mengkaji secara nyata. Maka dari itu, pandanglah kebelakang, bagaimana pergulatan mahasiswa sehingga sekarang menyandang sebutan agent of change.
 Mahasiswa berasal dari dua kata,  yaitu maha dan siswa. Maha berarti agung,  sedangkan siswa adalah orang yang berpendidikan.  Maka  dari makna tersebut, mahasiswa memiliki tanggungjawab besar dalam melaksanakan fungsinya sebagai kaum muda terdidik. Istilah perkumpulan mahasiswa muncul pertama kali pada tahun  1925 yang di awali dengan terbangnya para pemuda Indonesia untuk belajar ke Stovia,  Belanda . Sehingga terciptalah gerakan mahasiswa yang pluralisme dan terorganisir. Para pemuda tersebutbiasa kita ketahui dalam buku sejarah, diantaranya Dr. Radjiman W, Moh. Hatta  dan lain – lain, melihat kondisi Indonesia yang belum memadai dan masih banyak perpecahan maka mereka semua berinisiatif utuk menciptakan sumpah pemuda dan perkumpulan para joeng (pemuda).

Awal buah dari para perintis perkumpulan mahasiswa adalah Proklamasi yang dipelopori oleh Ir. Soekarno.  Seluruh ormas, partai politik dan mahasiswa bersatu menggoyangkan Indonesia pada tahun 1945.  Kemudian di tahun 1955, lahirlah tiga partai besar  diantaranya PNI; PKI; dan Masyumi. Tiga partai yang memiliki pandangan  ideologis yang berbeda terhadap  politik negara, membuat banyak permunculan gerakan – gerakan mahasiswa yang lahir secara dinamis, diantaranya -yang sekarang ada- yaitu HMI; PMII; GMNI; PKPT; FPPI dan lain – lain.   Kemudian melalui menteri pendidikan dan kebudayaan, bapak Daod Joesuf memberlakukan konsep NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasis Kemahasiswaan), sehingga terjadi dikotomi antara gerakan intra – kampus dan gerakan ekstra kampus. Dan mahasiswa dijauhkan dari politik praktis, akan tetapi mahasiswa pada zaman tersebut masih sadar akan keadaan politik Negara yang sangatlah otoriter.

Hingga pada tahun 1998 seluruh mahasiswa berkumpul, bersatu dan berpadu untuk menurunkan kedigdayaan presiden Soeharto, mereka memobilisasi masa untuk berunjuk rasa di gedung MPR/DPR. Pada tahun itu rekonstruksi besar – besaran terjadi di kepemerintahan Negara, diantaranya dicabutnya dwifungsi ABRI, pemberantasan KKN, amandemen UUD 1945, dll.

Meski pada tahun 98, perhimpunan mahasiswa (sangat) peka terhadap kondisi politik Negara. Akan tetapi pasca periswiwa 98 itu mahasiswa mengalami kebingungan intelektual, karena dengan dengan adanya NKK/BKK pergerakan mereka mulai dibatasi, mereka tak boleh lagi ikut campur terhadap pemerintahan, yang diperbolehkan hanya ikut campur dalam ranah kampus saja, cukup itu !.

 Kini pemikiran mahasiswa yang nyaman dengan zona NKK/BKK, mahasiswa sekarang belum sanggup menjawab tantangan yang ada pada zaman sekarang. Mereka terlalu nikmat merasakan indahnya fasilitas tersebut, fokus dengan keorganisasiannya!. Mereka merasa ingin nomer satu dan saling menyikut satu sama lain untuk membuktikan bahwa organisasinyalah yang kuat dan pantas di pandang, tiap tahun ajaran baru mereka –mengobral- janji (menjadi terbaik diantara yang lain) untuk berkembang dan mendapatkan sukses dimasa mendatang.

Lantas apa makna Agent of Change sekarang? Begini, pada tahun 1998 komunikasi belum merajalela seperti ini Mahasiswa tetap bisa berpadu, sedang kan di Era Milenial ini kita masih terpecah belah, masih banyak pendikotomian dimana mana, tugas kita sebagai -yang ingin jadi- Mahasiswa haruslah bisa membuka maindset kalau kita ini adalah  ‘Mahasiswa’ yang seharusnya bisa berinteraksi secara fair tanpa ada kemunafikan diantara sesama, semua Mahasiswa itu sama!

*Tim Kajian

Epistemologi berasal dari kata epistem yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Sehingga epistemologidapat diartikan seba...


Epistemologi berasal dari kata epistem yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Sehingga epistemologidapat diartikan sebagai ilmu untuk mengetahui suatu pengetahuan. Bisa juga disebut cara mendapatkan pengetahuan. Sebagai contoh pada zaman dahulu terjadi bencana, maka alasan yang ada di masyarakat adalah mitos-mitos, kesimpulan mereka tersebut merupakan cara mereka untuk memperoleh pengetahuan. 

Menurut Plato dalam prosesmencari pengetahuan manusia sebenarnya hanya mengingat. Menurutnya dunia yang kita tempati saat ini hanyalah dunia bayangan dimana sesuatu yang sebenarnya berada di dunia ide. Ide/ ilmu berasal dari atas yang menyebabkan adanya logika deduktif. Sementara kita memperoleh pengetahuan melalui indra.

Dalam islam terdapat tiga cara berfikir yaitu bayani, burhani, dan irfani. Metode bayani merupakan metode berfikir berdasarkan teks/ secara tekstual. Sedangkan metode burhani merupakan metode yang demonstratif aristotelian. Kemudian metode irfani merupakan metode yang mengandalkan wahyu ataupun intuisi.

Selanjutnya teori kebenaran, disini teori kebenaran dibagi menjadi tiga yaitu koherensi, korespondensi, dan pragmatis. Koherensi yang berarti selaras atau keselarasan dalam hal ini dimaksudkan bahwa sebuah pernyataan dianggap benar selama ia koheren atau selaras dengan pernyataan sebelumnya yang benar. Korespondensi yaitu, kebenaran suatu pernyataan ditentukan oleh kenyataan. Pragmatis yang berarti kebenaran dilihat dari utilitynya atau kegunaannya.


*Tim Kajian

About