Peran mahasiswa sebagai agent of change merupakan wacana belaka, dikarenakan pemahaman yang sekilas mata. Hingga tak ada yang mengkaji secara nyata. Maka dari itu, pandanglah kebelakang, bagaimana pergulatan mahasiswa sehingga sekarang menyandang sebutan agent of change.
Mahasiswa berasal dari dua kata, yaitu maha dan siswa. Maha berarti agung, sedangkan siswa adalah orang yang berpendidikan. Maka dari makna tersebut, mahasiswa memiliki tanggungjawab besar dalam melaksanakan fungsinya sebagai kaum muda terdidik. Istilah perkumpulan mahasiswa muncul pertama kali pada tahun 1925 yang di awali dengan terbangnya para pemuda Indonesia untuk belajar ke Stovia, Belanda . Sehingga terciptalah gerakan mahasiswa yang pluralisme dan terorganisir. Para pemuda tersebutbiasa kita ketahui dalam buku sejarah, diantaranya Dr. Radjiman W, Moh. Hatta dan lain – lain, melihat kondisi Indonesia yang belum memadai dan masih banyak perpecahan maka mereka semua berinisiatif utuk menciptakan sumpah pemuda dan perkumpulan para joeng (pemuda).
Awal buah dari para perintis perkumpulan mahasiswa adalah Proklamasi yang dipelopori oleh Ir. Soekarno. Seluruh ormas, partai politik dan mahasiswa bersatu menggoyangkan Indonesia pada tahun 1945. Kemudian di tahun 1955, lahirlah tiga partai besar diantaranya PNI; PKI; dan Masyumi. Tiga partai yang memiliki pandangan ideologis yang berbeda terhadap politik negara, membuat banyak permunculan gerakan – gerakan mahasiswa yang lahir secara dinamis, diantaranya -yang sekarang ada- yaitu HMI; PMII; GMNI; PKPT; FPPI dan lain – lain. Kemudian melalui menteri pendidikan dan kebudayaan, bapak Daod Joesuf memberlakukan konsep NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasis Kemahasiswaan), sehingga terjadi dikotomi antara gerakan intra – kampus dan gerakan ekstra kampus. Dan mahasiswa dijauhkan dari politik praktis, akan tetapi mahasiswa pada zaman tersebut masih sadar akan keadaan politik Negara yang sangatlah otoriter.
Hingga pada tahun 1998 seluruh mahasiswa berkumpul, bersatu dan berpadu untuk menurunkan kedigdayaan presiden Soeharto, mereka memobilisasi masa untuk berunjuk rasa di gedung MPR/DPR. Pada tahun itu rekonstruksi besar – besaran terjadi di kepemerintahan Negara, diantaranya dicabutnya dwifungsi ABRI, pemberantasan KKN, amandemen UUD 1945, dll.
Meski pada tahun 98, perhimpunan mahasiswa (sangat) peka terhadap kondisi politik Negara. Akan tetapi pasca periswiwa 98 itu mahasiswa mengalami kebingungan intelektual, karena dengan dengan adanya NKK/BKK pergerakan mereka mulai dibatasi, mereka tak boleh lagi ikut campur terhadap pemerintahan, yang diperbolehkan hanya ikut campur dalam ranah kampus saja, cukup itu !.
Kini pemikiran mahasiswa yang nyaman dengan zona NKK/BKK, mahasiswa sekarang belum sanggup menjawab tantangan yang ada pada zaman sekarang. Mereka terlalu nikmat merasakan indahnya fasilitas tersebut, fokus dengan keorganisasiannya!. Mereka merasa ingin nomer satu dan saling menyikut satu sama lain untuk membuktikan bahwa organisasinyalah yang kuat dan pantas di pandang, tiap tahun ajaran baru mereka –mengobral- janji (menjadi terbaik diantara yang lain) untuk berkembang dan mendapatkan sukses dimasa mendatang.
Lantas apa makna Agent of Change sekarang? Begini, pada tahun 1998 komunikasi belum merajalela seperti ini Mahasiswa tetap bisa berpadu, sedang kan di Era Milenial ini kita masih terpecah belah, masih banyak pendikotomian dimana mana, tugas kita sebagai -yang ingin jadi- Mahasiswa haruslah bisa membuka maindset kalau kita ini adalah ‘Mahasiswa’ yang seharusnya bisa berinteraksi secara fair tanpa ada kemunafikan diantara sesama, semua Mahasiswa itu sama!
*Tim Kajian
Lantas apa makna Agent of Change sekarang? Begini, pada tahun 1998 komunikasi belum merajalela seperti ini Mahasiswa tetap bisa berpadu, sedang kan di Era Milenial ini kita masih terpecah belah, masih banyak pendikotomian dimana mana, tugas kita sebagai -yang ingin jadi- Mahasiswa haruslah bisa membuka maindset kalau kita ini adalah ‘Mahasiswa’ yang seharusnya bisa berinteraksi secara fair tanpa ada kemunafikan diantara sesama, semua Mahasiswa itu sama!
*Tim Kajian
0 komentar: